Public Speaking

Perjalanan Panjang dan Berliku Menuju Machu Picchu

Perjalanan Panjang dan Berliku Menuju Machu Picchu – Pernah nggak sih kamu kepikiran buat ngelakuin sesuatu yang gila?

Pernah nggak kamu pengen coba hal baru yang beda dari biasanya?

Pernah nggak kamu pengen ninggalin lingkungan kantor dan nggak balik lagi?

Suatu malam di musim gugur tahun 1995, saat dalam perjalanan ke Manchester, saya merasa harus ada yang berubah.

Perjalanan tiga jam dari Leicester berubah jadi enam jam yang melelahkan—lagi. Saya terjebak di antara deretan mobil yang bergerak lambat, suasananya dingin, lembap, dan membosankan.

Di dalam tas kerja saya ada kontrak perpanjangan kerja yang masih belum saya tanda tangani, penuh dengan negosiasi yang berbelit-belit. Begitu sampai di Manchester jam 11 malam, dalam keadaan lapar, bosan, dan lelah, saya sadar—saya nggak bisa lagi menghadapi satu musim dingin lagi dengan gaya hidup yang seperti ini. Saya butuh perubahan besar.

Seminggu sebelumnya, saya juga terjebak di dalam kereta menuju London selama berjam-jam.

Seorang wanita yang duduk di depan saya meninggalkan majalah perjalanannya di kursi sebelum turun di Luton. Karena saya sudah membaca koran dari awal sampai akhir dan nggak ada yang menarik lagi, saya pun mulai membolak-balik majalah itu.

Setiap kali saya membalik halaman, mata saya selalu kembali ke halaman 34—iklan perjalanan lima bulan ke Amerika Selatan dan Tengah. Perjalanan dimulai dari Ushuaia di Argentina (kota paling selatan di dunia) dan berakhir di Mexico City. Rute perjalanannya seperti daftar impian destinasi wisata terbaik:

Buenos Aires, Ushuaia, Tierra del Fuego, Punta Arenas, Pucon (Gunung Villarica—gunung berapi aktif setinggi 3.000 meter), Bariloche, Esquel, kawasan danau Argentina, Santiago, Valparaiso, La Serena, Gurun Atacama, Arica, Nazca, Arequipa, Cusco, Machu Picchu, Danau Titicaca, La Paz, Manaus, Air Terjun Angel, dan masih banyak lagi…

Kebayang, kan?

Naik truk yang sudah dimodifikasi dan berkemah di alam bebas, para petualang beruntung ini bakal merasakan pengalaman luar biasa menjelajahi pesona Amerika Selatan dan Tengah.

Saya belum pernah berkemah sebelumnya, tapi saat itu, dengan usia 35 tahun yang baru saja saya rayakan, saya sadar—ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Apakah saya akan tetap terjebak dalam rutinitas kantor yang membosankan, ataukah saya akan berani melangkah ke dunia petualangan?

Saya masih lajang, nggak punya tanggungan, dan saya punya cukup uang. Apa gunanya punya saldo besar di rekening kalau hidup cuma lewat begitu saja?

Senin pagi berikutnya, saya langsung mengajukan resign. Diskusi kontrak yang berlarut-larut akhirnya nggak penting lagi. Saya cuma perlu bertahan sepuluh hari kerja lagi sebelum benar-benar bebas. Rasanya lama banget menunggu hari itu tiba.

Begitu semuanya selesai, saya merasa melayang. Saya berjalan di lorong kantor sambil bersiul lagu *El Condor Pasa*—padahal saya biasanya nggak pernah bersiul!

Rasanya luar biasa. Beban rapat, setrika baju kerja, dan perjalanan bolak-balik di jalan tol yang tiada akhir tiba-tiba hilang begitu saja. Sekarang, daftar prioritas saya berubah total: beli perlengkapan outdoor, sleeping bag mahal, sepatu hiking, dan jaket tahan segala cuaca.

Dan ada satu tempat yang paling saya nantikan—Machu Picchu di Peru. Saya sudah membaca begitu banyak tentang tempat itu, dan saya tahu ini bakal jadi puncak perjalanan saya.

Kalau kamu penasaran bagaimana perjalanan gila saya ini berakhir, klik link berikut dan ikuti jejak saya di Jalur Inca menuju Machu Picchu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *