Stop! Kalian Berdua Benar
Stop! Kalian Berdua Benar – Di dunia maya, batasan kesalahan semakin tipis…
Dulu, butuh waktu lama bagi istilah gaul untuk benar-benar melekat dalam percakapan sehari-hari di suatu daerah. Contohnya, meskipun Amerika Serikat memisahkan diri dari Inggris pada tahun 1789, berdasarkan surat-surat pribadi yang dianalisis oleh sejarawan, perbedaan aksen antara kedua negara baru benar-benar terlihat jelas pada tahun 1830-an.
Aksen lokal memang bagian dari identitas budaya suatu daerah. Tapi sekarang, dengan semakin banyaknya orang yang berinteraksi baik di dunia maya maupun dunia nyata, masalah pelafalan menjadi semakin sering muncul.
Saya baru menyadari ini lagi ketika menonton siaran olahraga nasional yang membahas tim basket NCAA dari Gonzaga University di Spokane, Washington. Penduduk lokal di sana bersikeras bahwa nama universitas itu dilafalkan “Gon-ZAEG-ah”. Tapi, komentator olahraga dari luar daerah sering mengucapkannya sebagai “Gon-ZAHG-uh”—sampai akhirnya mereka dikoreksi.
Namun, nama Gonzaga sudah menjadi bagian dari sejarah Italia sejak tahun 1300-an. Siapa pun yang pernah mempelajari sejarah atau mendengar nama ini dalam konteks yang lebih luas pasti tahu bahwa pelafalan yang benar adalah “Gon-ZAHG-uh”. Ludovico Gonzaga mendirikan dinasti keluarganya di negara bagian Mantua pada tahun 1328, dan keluarganya menjadi kekuatan budaya serta militer selama hampir lima abad.
Uniknya, Gonzaga University di Spokane justru tetap menggunakan pelafalan khas mereka, meskipun mereka memiliki program studi di Italia. Percaya deh, kalau kamu ada di Eropa, semua orang menyebutnya “Gon-ZAHG-uh”. Tapi, alumni dari Spokane—termasuk Bing Crosby dan John Stockton—lebih terbiasa menyebutnya “Gon-ZAEG-ah”.
Jadi, Mana yang Benar?
Pertanyaan ini membawa kita ke topik yang lebih luas: bagaimana etika pelafalan yang benar? Apakah kita harus menggunakan pelafalan asli yang benar secara historis, ataukah kita mengikuti cara pelafalan yang sudah berkembang di suatu daerah?
Contoh lainnya adalah nama *Notre Dame*. Secara bahasa Prancis yang benar, seharusnya diucapkan “Noht-ruh Dahm”. Tapi kalau kamu menggunakan pelafalan itu di Amerika, orang-orang mungkin akan menatapmu aneh. Universitas *Notre Dame* di Indiana, misalnya, lebih nyaman dengan pelafalan ala Amerika.
Masalah serupa juga terjadi dalam merek-merek internasional. Bir Jerman *Löwenbräu*, yang seharusnya dilafalkan “LUH-ven-broy”, justru sering diucapkan berbeda oleh orang-orang di negara berbahasa Inggris. Begitu juga dengan toko furnitur asal Swedia, *IKEA*, yang diucapkan “ee-KAY-uh” secara global, meskipun sebenarnya pelafalan aslinya lebih mendekati “EE-keh-uh”. Coba saja pakai pelafalan asli, pasti banyak yang bingung atau menganggapmu sok tahu.
Komersialisasi vs. Pelafalan Asli
Dalam dunia bisnis, uang sering kali lebih penting daripada pelafalan yang benar. Contohnya adalah merek sepatu olahraga terkenal, *adidas*. Nama ini berasal dari pendirinya, Adi Dassler, dan seharusnya dilafalkan “AH-dee-dahs”. Tapi entah kenapa, orang Amerika lebih nyaman menyebutnya “Uh-DEE-duhs”. Yang penting, sepatu tetap laku!
Nama-Nama Terkenal Juga Sering “Diubah”
Fenomena ini juga terjadi pada nama-nama orang terkenal. Misalnya, pemain hoki asal Finlandia, *Teemu Selanne*. Seharusnya diucapkan “TAE-moo SAY-lah-nuh”, tapi di Amerika Utara, ia lebih dikenal sebagai “TEE-moo Seh-LAH-nee”.
Ada juga kasus pemain bisbol Bill Mueller. Saat pertama kali masuk ke liga utama bersama San Francisco Giants pada tahun 1996, ia menggunakan pelafalan Jerman “MYOO-luhr”. Tapi suatu saat, ia memutuskan bahwa lebih baik namanya diucapkan “Miller”. Kenapa? Entahlah. Apa kita berhak membantah cara seseorang mengucapkan namanya sendiri?
Aktor Jake Gyllenhaal juga punya cerita serupa. Nama belakangnya berasal dari bahasa Swedia dan seharusnya diucapkan “YEE-lehn-hole”, yang berarti “Jalan Emas”. Tapi orang Amerika lebih nyaman menyebutnya “JEE-lehn-hall”. Jake sendiri tampaknya tidak terlalu peduli—mungkin karena dia terlalu sibuk menikmati ketenarannya.
Kesimpulan? Keduanya Benar!
Makanya, saya sulit menyalahkan siapa pun yang menggunakan pelafalan berbeda. Semuanya tergantung konteks. Kalau kamu berada di lingkungan di mana mayoritas orang menggunakan pelafalan tertentu, ikut saja. Tapi kalau tidak ada aturan baku, pelafalan asli bisa lebih masuk akal.
Aturan sederhana saya: kalau kamu minoritas dalam suatu situasi, ikuti cara mereka. Kalau tidak, pakai pelafalan universal. Simple, kan?