Teleprompter – Impian Para Pembicara Jadi Kenyataan
Teleprompter – Impian Para Pembicara Jadi Kenyataan – Waktu suami saya yang baru menikah bilang kalau dia akan jadi operator teleprompter, saya sama sekali nggak ngerti maksudnya. Dia lalu jelasin kalau teleprompter itu kayak kartu cue (petunjuk) tapi ditampilkan di layar komputer, dan sering dipakai nggak cuma di dunia media, tapi juga oleh perusahaan untuk presentasi dan syuting iklan. Kedengarannya menarik, tapi gimana cara kerjanya?
Jadi, setelah naskah pidato ditulis, teksnya dimasukkan ke komputer dan bakal muncul di depan pembicara tanpa audiens menyadarinya. Saya langsung teringat pengalaman dulu waktu harus hafal semua yang mau saya omongin dan menyusunnya supaya rapi dan urut. Biasanya, itu berarti saya harus latihan mati-matian semalaman atau bawa tumpukan kartu kecil 3×5 untuk pegangan saat presentasi. Nah, teleprompter bikin semuanya jadi lebih simpel! Sekarang, pembicara nggak perlu lagi ngafalin pidato—cukup baca dari layar di depan mereka. Bayangin aja, berapa banyak waktu latihan yang bisa dihemat, belum lagi stres yang bisa dikurangi!
Saya jadi penasaran, gimana awal mula teleprompter ini dibuat? Ternyata, teleprompter pertama kali diciptakan di tahun 1950-an oleh Fred Barton Jr., Hubert J. Schlafly, dan Irving Kahn. Waktu itu, Fred Barton adalah seorang aktor dan dia punya ide buat alat ini supaya para pemain teater atau acara TV bisa terbantu kalau mereka punya banyak dialog yang harus dihafal dalam waktu singkat. Skripnya dulu masih ditulis di gulungan kertas yang digerakkan seiring pembacaan.
Tahun 1982, sistem teleprompter berbasis komputer pertama kali dikembangkan dan dijalankan di komputer ATARI 800 dengan software khusus. Sistem ini didesain untuk bekerja dengan perangkat kamera yang juga dimodifikasi. Sampai sekarang, teleprompter tetap menggunakan komputer dan terhubung ke monitor video di satu atau lebih kamera. Monitor ini ditempatkan langsung di depan kamera, jadi saat pembicara membacanya, mereka terlihat seperti sedang berbicara langsung ke kamera, bukan sekadar membaca teks.
Jenis layar teleprompter juga bervariasi tergantung kebutuhan. Salah satu yang sering kamu lihat—tapi mungkin nggak sadar—adalah presidential glass. Layar ini hampir transparan, jadi nggak menghalangi pandangan audiens atau kamera. Bahkan penyanyi seperti Frank Sinatra, Bruce Springsteen, dan Elton John juga pakai teleprompter saat manggung!
Oke, cukup soal sejarah dan teknologinya. Ternyata, ada juga “seni” dalam menggunakan teleprompter! Begini, kalau cuma baca teks dari layar, hasilnya bisa terdengar kaku dan seperti “dibacakan”. Padahal, kebanyakan pembicara ingin terlihat natural dan percaya diri. Di sinilah peran operator teleprompter yang berpengalaman jadi sangat penting.
Operator yang sudah ahli biasanya akan menyesuaikan naskah dengan gaya bicara pembicara. Saat latihan, mereka memperhatikan intonasi suara untuk memastikan alur pidato nyaman diucapkan. Kadang-kadang, mereka perlu mengubah beberapa kata atau menyusun ulang kalimat agar lebih enak didengar. Seorang operator profesional tahu bahwa pekerjaannya bukan sekadar mengetik skrip dan mengoperasikan layar.
Bagi pembicara, menemukan operator teleprompter yang bagus bisa jadi penyelamat.